FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

Chronicles

21 November 2005 01:02 PM

(Mapala UI) IKUTAN KOMPETISI

Source: Buku Jejak Kampus di Jalan Alam : 40th Mapala UI

Perkembangan kegiatan arung jeram di Indonesia era 1990-an membuat banyak pihak untuk menggelar lomba, seperti halnya yang terjadi di luar negeri. Mapala UI sebagai salah satu pelopor arung jeram mau tidak mau harus berpartisipasi. Walaupun tidak mengkhususkan diri pada pembinaan atlet dayung, keikutsertaan dalam lomba sebisa mungkin bukan hanya penggembira.

         Bermula dari lomba di Batang (sungai) Asai dan Batang Merangin di Jambi tahun 1989 yang diselenggarakan oleh Pemda Jambi. Lomba yang setengah ekspedisi ini, Mapala Ui juga terlibat sebagai penyelenggara, dan tujuan utamanya adalah menggali potensi wisata daerah. Dokumentasi kegiatan ini kemudian ditayangkan di Teater Imax Keong Mas, di TMII. Anggota Mapala yang aktif terlibat antara lain Wisetyo Toto dan Sulistya Pribadi.

         Berturut-turut pada 1990 dan 1991 , kelompok Mapagama dari UGM Yogyakarta menggelar lomba di Sungai Progo. Sungai ini terkenal dengan jeramnya yang ganas, apalagi jika sebelumnya hujan.Akibatnya, pada 1991, dua anggota Wanadri tewas saat latihan sehari sebelum lomba digelar. Padahal hari itu panitia sudah memperingatkan untuk tidak ada yang latihan karena kondisi sungai sedang meluap (bandang). Keesokannya, – meski arusnya masih besar, namun panitia menyatakan ‘laik turun’ – lomba tetap terus digelar.

         Dari dua lomba di Progo, tim Mapala UI memang tidak berhasil dapat nomor.  “Waktu tahun 1990 kita gagal total. Dua perahu kita yang turun, dua-duanya meletus karena kelamaan kejemur,” kenang Toto Wisetyo yang saat itu menjadi komandan tim.

         Baru pada lomba tahun 1991 Mapala UI memberi warna sendiri dengan menurunkan tim perempuan yang mampu meliuk anggun di jeram-jeram besar. Sementara beberapa tim ada yang masih trauma dengan musibah Wanadri sehari sebelumnya.

         Cerita mengikuti lomba berlanjut di Bali. Kali ini tahun 1994, di Sungai Ayung. Beberapa tahun sebelumnya, Sungai Ayung telah menjadi objek wisata arung jeram yang dikelola oleh Sobek Expedition dari Amerika Serikat. Untuk pertama kalinya lomba arung jeram menggunakan event organizer yang mendapat dukungan sponsor besar dari perusahaan rokok, dan dukungan fasilitas dari sponsor.

         “Ini lomba paling nyaman. Bayangin, kita cuma modal badan doang. Transpor, penginapan, perahu, dan makan, semua peserta lomba ditanggung panitia,” cerita Toto yang menjadi skipper, sedang-kan yang menjadi komandan tim sekaligus pelatih adalah Agus “STM” Mulyono.

         Strategi lomba yang diterapkan sungguh tepat, yaitu dengan menurunkan awak yang kecil tapi punya power yang kuat, mereka adalah pemanjat tebing. Ini untuk menyiasati karakter sungai yang jeramnya cetek dan perahu yang berukuran kecil. Alhasil, Mapala beroleh juara III, dari akumulasi nilai selama empat hari perlombaan. Juara I dan II adalah tim Sobek yang terdiri atas para guide.

         Sukses di Ayung berlanjut di lomba Cimanuk setahun kemudian, dengan menerapkan strategi yang kurang lebih sama. Meski pesertanya dan pelaksanaannya tidak sekomplet di Bali, tim Mapala pulang dengan piala Juara I.

         Pertengahan 1990-an mulai ramai lahirnya operator arung jeram, khususnya di sekitar Sukabumi, dengan target orang-orang Jakarta. Kelahiran operator ini mengilhami berdirinya Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) yang anggotanya termasuk juga kelompok pencinta alam. Selanjutnya, disepakati lomba arung jeram adalah bagian dari program FAJI.

         Hajatan FAJI pertama digelar di Sungai Serayu, Jawa Tengah, 1997. Sayang, Mapala UI tidak bisa masuk peringkat lima besar di kejuaraan ini. Demikian pula pada kejuaraan FAJI selanjutnya–akibat krisis ekonomi 1997, kejuaraan sempat terhenti lama–di era 2000-an di Sungai Asahan, yang pelaksanaannya mendapat dukungan dari Pemda Sumut, Mapala tidak bisa berbuat banyak.

         Perihal mendayung dengan power telah berkembang di Mapala UI sejak adanya dua buah kayak yang dihibahkan Porlasi di awal 1980-an untuk mendukung divisi layar. Dua kayak yang tergantung di teras Sekretariat Zaal A PGT itu, memancing minat Toto dan Sulis untuk memainkannya di sekitar Teluk Jakarta.

         Perjalanan dua hari dua malam dari Marina Ancol menuju Pulau Onruust, Pulau Untung Jawa, Pulau Rambut dan kembali ke Ancol, menggairahkan minat anggota Mapala lainnya untuk ber-’kayak ria’.  Tercatat beberapa kali kegiatan sailing camp di Kepulauan Seribu yang juga diikuti kayaking pada pertengahan 1980-an.

         Dari kegiatan senang-senang, menjadi serius. Setelah “kursus” singkat gratisan dengan atlet dayung PODSI DKI di Semper, Tanjung Priok, Toto dan Suryanto, anggota baru yang punya power gede, mengikuti Lomba Dayung Mahasiswa se-Indonesia (LDMI) 1988 di Waduk Selerejo, Malang.

         Walaupun tidak berhasil mendapat nomor, event di Malang malah makin memberi semangat anak-anak Mapala, apalagi didukung oleh kerabat Mapala bernama Tukimin yang ahli membuat kayak dan kano. Sebagai alternatif lain selain naik gunung, beberapa calon anggota baru mesti mendayung kayak ke Pulau Onruust untuk menghadiri pelantikannya (1989).

         Ketika markas Mapala dipindahkan ke kampus Depok, kegiatan mendayung pun beralih ke danau UI yang memang cukup luas, tapi tentu saja tantangannya berbeda. Sampai akhirnya pada 2003 dan 2004 pihak Rektorat UI menyelenggarakan Lomba Perahu Naga di danau UI. Sayangnya, event “hura-hura” tapi serius ini tidak diambil penyelenggaraannya oleh BP Mapala UI, padahal kesempatan itu ditawarkan oleh Rektor dan dana sudah disiapkan. Alasan BP waktu itu, tidak sanggup, karena tidak ada “orang”.

         Peserta Lomba Perahu Naga UI yang dari luar lingkungan UI adalah peserta “serius”, antara lain Marinir, atlet dayung PODSI Jabar, ISTN (universitas yang punya spesialisasi mendayung). Untuk tingkat UI (Tingkat Pemula), baru pada 2004, Mapala UI menempati Juara II di bawah tim Satpam UI. Yang menarik, tim Mapala kali itu terdiri atas beberapa pendayung perempuan anggota baru angkatan 2003.

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org