FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

Chronicles

21 November 2005 04:02 PM

Para “Kapten Kapal”

Source: Buku Jejak Kampus di Jalan Alam : 40th Mapala UI

Selain Sinarmas dan Norman Edwin yang terkenal sebagai dedengkot arung jeram Mapala UI, yang juga harus dicatat adalah Agus Mulyono atau akrab disapa STM, yang terkenal sangat tegas dalam menerapkan displin berarung jeram dengan dasar latihan fisik yang terprogram. Berbeda dengan metode menda-yung operator wisata arung jeram yang minta semua awak tidak mendayung saat memasuki jeram karena akan menganggu skipper, arung jeram yang diterapkan di Mapala UI adalah semua awak harus mendayung, malah yang paling depan harus ikutan mengarahkan perahu saat memasuki jeram.

         Angkatan berikutnya yang menggeluti arung jeram adalah Budi ‘Belek’ Laksmono yang mem-prakarsai Ekspedisi Alas ‘86. Setelah itu ada Setyo Ramadi, yang dengan STM turun ke Sungai Alas beberapa bulan setelah Belek dan Tom Sukaryadi tewas di sungai itu. Kegiatan itu mereka lakukan bersama kelompok Wanadri. Dari Setyo, dayung kemudi diserahkan kepada Wisetyo ‘Toto’ Dody Prayogo dan Tantyo Bangun. Ini terjadi sekitar menjelang akhir 1980-an. Seperti sudah disinggung, di era itu arung jeram Mapala UI sedang jaya-jayanya.

         Dan selanjutnya yang mengembangkan antara lain Rudi Nurcahyo, Idham Arsyad, Fayez Indra, Saut Panggabean (M-371-UI), Haryo Murti (M-379-UI). Bahkan pada lomba di Sungai Progo 1991, Mapala UI sempat mencuri perhatian dengan menurunkan tim putri. Padahal sehari sebelumnya dua anggota Wanadri tewas di sungai itu ketika mereka latihan. Hari-hari itu Progo memang lagi ngamuk.

         Setelah itu divisi arung jeram Mapala dipegang oleh antara lain Rusdi ‘Ucok’ Marpaung (M-448-UI) dan M. Syarifuddin dari BKP 1990 yang  aktif ‘turun’ ke sungai-sungai di Jawa Barat. Ketika dibuka kembali BKP pada 1993, Mapala UI memiliki banyak peminat arung jeram, mereka antara lain Yunaz Santhani (M-482-UI), Mohamad ‘Mandra’ Sofian (M-494-UI), Dedi Hermawan (M-489-UI), Budi ‘Indro’ Setio, Andi Setiadi dan Wasi Gede (M-509-UI). Selain kerap latihan di Sungai Cimandiri, skuad ini pernah menjadi juara ketiga pada kejuaraan arung jeram terbuka selama empat hari di Bali 1995.

         Pertengahan 1990-an masa komersialisasi arung jeram, khususnya bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya, melalui operator Arus Liar, BJ’s, dan Cherokee di Sungai Citarik dan Citatih, Sukabumi. Mapala pun demikian, Iman Abdurrahman (M-532-UI), Djati Sasongko (M-569-UI), Zahrah Anastasia (M-529-UI), Jimmy Rambing (M-531-UI), Sulung Prasetyo (M-550-UI) kerap menjual paket wisata kepada teman-teman mahasiswa UI di Sungai Cisadane sampai Cimandiri. Usaha ini tidak semata ikutan tren saat itu, akan tetapi memang menjadi sumber pemasukan kas organisasi yang lumayan.

         Di era 2000-an kemudi arung Jeram Mapala dikendalikan oleh antara lain Juferdy (M-627-UI) Tessa Mardhana (M-607-UI), Sabitha (M-606-UI) dan Agung Yuniharto (M-613-UI) hasil seleksi BKP 1999. Sedangkan angkatan selanjutnya antara lain Gerald Simatupang (M-670-UI), Arif Fiyanto (M-667-UI) dan Oktora ‘Tonte’ (M-653-UI) yang terpaksa menunda ekspedisi ke sungai di Jambi awal tahun 2005 ini bersama anak-anak “Arjer” angkatan BKP 2003, karena musibah gempa bumi dan tsunami di Aceh.

         Arung jeram memang kini sudah memasyarakat, bahkan orang yang background-nya bukan pencinta alam pun sudah bisa menikmati jeram-jeram di beberapa sungai di kawasan Bogor sampai Sukabumi hanya dengan Rp 150 ribu sudah termasuk makan siang. Malah kalau mau sensasi lain, bisa juga ambil paket arung jeram di malam hari.

         Tapi, banyak anggota Mapala yang kurang tertarik menikmati paket wisata arung jeram ini. “Rasanya kok lain, ya? Ada kenikmatan sendiri kalau kita mendayung di jeram, tapi kalo pake operator, begitu masuk jeram kita harus ‘stop’ dayung, kalo kita mendayung skipper-nya jadi kagok,” kata teman Mapala angkatan ‘80-an yang enggan disebutkan namanya itu.

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org