FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

Chronicles

21 November 2005 05:00 PM

(Arung Jeram) Makin Populer

Source: Buku Jejak Kampus di Jalan Alam : 40th Mapala UI

awal 1990-an bisa dibilang eranya arung jeram. Selesai ekspedisi Tripa, setahun kemudian–Agustus 1991–Mapala UI kembali ke Kalimantan. Kali ini juga ke Sungai Kayan di pedalaman Kalimantan Timur. Namun kali ini lebih ke hulu karena berdasarkan data, sungai ini belum pernah diarungi, dan wilayah sekitarnya memiliki potensi wisata yang belum digali. Meski hanya satu perahu besar, tapi peserta ekspedisi mayoritas adalah ‘anak baru’ angkatan BKP 1988, yang tahun sebelumnya ikut ke Tripa.

         “Seperti halnya ekspedisi ke Tripa, kami juga ingin menggali potensi wisata Sungai Kayan,” jelas Rudi Nurcahyo yang menjadi project officer. ‘Jualan’ ekspedisi dengan konsep wisata, sepertinya pas dan ‘kena’ pada masa itu. Makanya Ichien kembali mendapat tugas dokumentasi video sebagai laporan kepada Departemen Pariwisata yang menjadi salah satu sponsor. Selain berperahu karet, ekspedisi ini didampingi oleh perahu kayu (long boat) bermesin yang dikemudikan enam orang Dayak Kenyah.

         Pengarungan diawali di Longampung, Apo Ka-yan (dataran tinggi Kayan) dan berakhir di Longbia. Jika jarak perjalanan menyusuri sungai dijumlahkan, kurang lebih ekspedisi ini menempuh jarak 230 kilometer, termasuk rute sungai yang harus ditempuh dengan long boat karena tidak berjeram. Di beberapa kampung besar, tim ekspedisi juga disambut dengan tari-tarian daerah dan musik tradisional.

         Kalau bicara jeramnya, Rudi punya cerita: “Jika dibandingkan dengan Tripa, Sungai Kayan agak kalem. Tapi ada satu tempat namanya di Keham Mawon, yang artinya kurang lebih Jeram Awan. Saking gedenya itu jeram, sampai ada buih-buih air di atasnya yang menyerupai awan. Di peta kami, lokasi ini tidak terdata.” Inilah jeram yang juga diceritakan Norman.

         Karena mustahil dilalui, akhirnya tim harus angkat perahu (portaging) menembus hutan selama tiga hari dua malam (sementara long boat pulang berbalik arah sungai). Perjalanan menerobos hutan ini juga punya cerita sendiri, karena tanpa sengaja Idham Asyad (M-393-UI) menendang sarang tawon. Akibatnya, tawon yang marah langsung menyerang hampir semua anggota ekspedisi. “Tawonnya, asli segede jempol!” tegas Agung Ari Wibowo (M-404-UI) yang kena satu gigitan. Idham, yang memang jalan paling depan, memegang rekor terkena 12 gigitan. Sorenya ia demam, untung ada Sukriati yang selalu siap dengan obat-obatan karena memang dia anak FKUI.

         Dari Longbia mereka menuju Tanjung Selor dan Tarakan, lalu bergabung dengan rekan-rekan lain di Samarinda yang baru menyelesaikan penelusuran gua-gua di Mangkalihat.

         Perkembangan yang pesat divisi arung jeram Mapala UI mulai dari awal ‘80-an, ditandai dengan hibah tiga perahu karet merek Avon dari Frank Morgan dkk. setelah mereka turun di Kalimantan bersama Sinarmas Djati dan Norman Edwin. Perahu karet bikinan pabrik yang juga memproduksi ban yang dipakai mobil-mobil Eropa ini, kualitasnya memang nomor satu di dunia.

         Meskipun begitu, perahu hibah itu masih belum memakai teknologi self bailing atau air yang masuk akan terbuang sendiri, sehingga salah satu peralatan wajib di dalam perahu adalah gayung, atau awak perahu harus menguasai teknik membalikkan perahu di tengah sungai untuk membuang air. Teknik ini sangat mengandalkan kecekatan dan kekuatan bahu untuk bisa secepatnya di dalam perahu lagi

         Udah gitu, bagian alas (dek) perahu Avon itu hanya lapisan karet biasa, tidak ada tabung udaranya, jadi seperti tidak ada memiliki tulang punggung. Untuk itu, harus ditambahkan tali di tengah perahu yang mengikat kuat bagian depan dan belakang. Dari samping perahu akan nampak seperti buah pisang yang melengkung. Tali di tengah tadi juga berfungsi sebagai pegangan awak jika memasuki jeram.

         Sampai dengan tahun 1988 tempat latihan arung jeram yang cukup menantang adalah Sungai Citarum, startnya di jembatan lawas Rajamandala, belok ke kanan dari arah Cianjur menuju Bandung. Selain Mapala, kelompok Wanadri juga kerap latihan di sini. Bahkan reli arung jeram pertama yang dibuat Wanadri pada 1975 berlangsung di Citarum. Setelah 1998 sungai ini dibendung, sehingga ketinggian air bertambah sampai 25 meter dan tak ada lagi jeramnya.

         Dari Citarum, arena bermain pindah ke Sungai Cimandiri, di wilayah Sukabumi menuju Pelabuhan Ratu. Jeram-jeramnya tak kalah menantang, malahan menjelang finisnya ada pertemuan tiga anak sungai yang menyebabkan arus menjadi besar sampai lebih 500 meter panjangnya.

         Sungai lain yang sering digunakan adalah Sungai Cisadane, Bogor. Selain dekat dengan Jakarta, lokasi sungai ini cocok untuk latihan anggota baru karena dekat dengan perbukitan Ciampea tempat latihan panjat tebing. Meski jeramnya tidak ‘seseru’ Cimandiri, tapi jika di hulunya hujan, arus Cisadane terkenal mematikan.

         Sungai-sungai di Jawa Barat lainnya banyak yang dijadikan ajang latihan melaksanakan ekspedisi dengan skala kecil, khususnya bagi calon anggota. Di antaranya Sungai Citanduy (1989), Sungai Cimanuk (1994 dan 1996), Sungai Cibarenok (1998).

         Pada 1999 beberapa anggota Mapala UI bersama dengan operator arung jeram dan kelompok pencinta alam setempat mengarungi Sungai Maiting, Sadang dan Balease  di Sulawesi Selatan (1999). Sulung Prasetyo (M-550-UI) yang menceritakan kisahnya di Koran Sinar Harapan edisi 1 Mei 2003, “Jeram ‘Puru’ sejauh dua kilometer akan menghadang kita di permulaan mengarungi Sungai Sadang ini. Jeram-jeram di atas jeram ‘Puru’ lebih dasyat lagi. Menurut cerita yang ada, jeram-jeram tersebut pernah memakan korban mahasiswa-mahasiswa Malang yang pernah melakukan perjalanan ekspedisi di sana. Bahkan, seorang guide arung jeram di Sadang ini pasti akan merasa sulit tidur sebelum memasuki ‘Puru’ esok harinya. Hal ini mungkin terjadi karena beratnya tanggung jawab yang harus ia emban untuk menyelamatkan wisatawan di kompleks jeram ini. Dahsyat sekali.”

         Sedangkan ekspedisi besar yang terakhir dilakukan adalah menyusuri jalur Sungai Kapuas Mahakam pada 1994. Jalur ini mengulang rute yang pernah dilalui Norman dan Frank Morgan pada 1980. Sebenarnya ekspedisi ini adalah program kerja sama dengan Harian Kompas sebagai pihak yang mendanai, dan Mapala UI sebagai pihak yang menyelenggarakan.

         Ekspedisi Kapuas Mahakam (EKM) 1994  melibatkan beberapa ahli biologi Universitas Nasional yang menginventaris jenis flora-fauna sepanjang jalur sungai yang dilalui, serta fotografer andal yang spesialis kegiatan alam bebas. Salah satu hasil penting dari EKM ‘94 adalah rekomendasi satu kawasan di Pegunungan Muller yang menjadi hulu Sungai Kapuas, Sungai Barito, dan Sungai Mahakam sebagai kawasan hutan lindung.

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org