FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

Chronicles

21 November 2005 03:56 PM

DAYUNG KEMUDI YANG TAK PERNAH PATAH

Source: Buku Jejak Kampus di Jalan Alam : 40th Mapala UI

Krueng Tripa memang bukan sembarang sungai. Di peta kegiatan arung jeram, sungai yang mengalir dari Aceh Tenggara dan membelah Aceh Barat ini tadinya belum tercantum sebagai medan yang pantas untuk menguji keberanian dan kemampuan mengemudikan perahu. Dan perahu-perahu karet yang diawaki anggota Mapala UI tampaknya telah berupaya menguaknya, sekaligus membuka “lahan” baru untuk para petualang lokal maupun internasional. Mapala UI telah mencatatkan diri sebagai kelompok pertama yang berhasil mengarungi Krueng Tripa sejauh 100 kilometer, mulai dari Kala-kuang di Aceh Tenggara sampai Alue Waki di Aceh Barat. Beberapa bulan sebelumnya, kelompok pencinta alam dari Palapsi UGM memang telah mencoba mengarungi sungai ini, tetapi jarak yang mereka tempuh tidak sejauh tim Ekspedisi Krueng Tripa ‘90 Mapala UI.

         Ekspedisi arung jeram ini bisa dibilang ekspedisi Mapala yang dirancang dengan saksama mulai dari perencanaan, latihan, pengenalan medan, seleksi peserta, pendanaan, pendokumentasian, sampai strategi pengarungan. Perancangan yang detail ini dilandasi evaluasi musibah ekspedisi di Sungai Alas, yang juga di Aceh pada 1986. Motor penggerak awalnya adalah Agus Mulyono (M-128-UI) dan Wisetyo Toto yang saat itu sebagai koordinator divisi arung jeram. Kepemimpinan ekspedisi kemudian dilanjutkan oleh Sulistya Pribadi.

         Selain itu, ekspedisi Tripa juga dirancang untuk menggali potensi wisata arung jeram di sungai itu dan kebudayaan masyarakat sekitarnya. Rancangan ini tentunya sangat berhubungan dengan strategi pencarian dana. Untuk itu pendokumentasian ekspedisi harus bagus dan mampu mengungkap potensi itu. Syamsirwan, atau yang akrab disapa Ichien,–yang sudah lama bergaul dengan Mapala senior, dan dia menggeluti bidang dokumentasi video–diajak untuk melaksanakan tugas ini.

         Akhir Januari 1990, tim ekspedisi Tripa dibe-rangkatkan dengan jumlah anggota 20-an orang. Sampai di Banda Aceh masih ditambah lagi enam mahasiswa Universitas Syahkuala. Jumlah yang besar ini, tidak semuanya “atlet” pengarung, ma-lah setengahnya lebih adalah tim pendukung dokumentasi, komunikasi dan yang siaga di flying camp sekaligus petugas scouting. Medan Sungai Tripa memang sangat terpencil dan relatif terisolasi, sehingga dukungan komunikasi dan strategi mendi-rikan flying camp sangat penting. Berkat jaringan komunikasi yang baik yang dibangun David Teak – seorang kerabat Mapala, setiap hari tim bisa berhubungan dengan Jakarta, bahkan sekali waktu Merdias Almatsier, yang saat itu menjabat Pembantu Rektor III UI, menyempatkan diri untuk ‘say hello’ kepada tim ekspedisi.

         Pengarungannya sendiri berlangsung dari tanggal 5 - 9 Februari, dengan menurunkan dua perahu merek Avon berukuran besar. Masing-masing perahu berisi tujuh awak, dengan skipper-nya Norman Edwin dan Setyo Ramadi. “Jeramnya gede banget, dan panjang. Malah beberapa enggak bisa kita lewati, dan terpaksa angkat perahu. Tapi view-nya luar biasa indah,” tutur Miranda (M-405-UI), satu-satunya awak perempuan.

         Kejutan lain yang dialami tim Tripa adalah, ketika finis mereka disambut oleh Teungku Raja Ubit. Beliau adalah kepala suku yang menguasai wilayah pedalaman Kecamatan Darul Makmur, Aceh Barat. Raja Ubit termasuk keturunan kaum bangsawan Aceh, namun kini dikelompokkan sebagai masyarakat terasing karena sejak zaman kemerdekaan tersisih. Tak seorang pun tahu pasti di hutan mana Raja Ubit tinggal, begitu pula tentang kehadirannya saat itu, entah kebetulan sedang turun gunung atau memang sengaja ingin menyambangi Tim Mapala UI setelah mengarungi sungai yang “dikuasainya”. “Tampangnya seram dengan kulit hitam dan kumis lebat, tapi Raja Ubit keliatan senyum kecil waktu kita ngempesin perahu. Selebihnya, ia cuma diem aja, mungkin enggak bisa bahasa Indonesia,” kata Miranda lagi.

         Sehabis mengarungi Sungai Tripa, tim ekspedisi menyempatkan turun ke Sungai Alas dalam dua kali pengarungan. Ketika seluruh kegiatan pengarungan berakhir, tim membuat syukuran dengan makan bersama di atas hamparan daun pisang seraya mengenang musibah di sungai ini pada 1986 yang menewaskan Budi Laksmono (M-236-UI) dan Tom Sukaryadi (M-312-UI).

         Awal 1986, Mapala UI pernah memberangkatkan tim ekspedisi arung jeram ke Sungai Alas dengan menurunkan satu perahu besar dan satu kecil. Boleh dibilang ini adalah ekpedisi arung jeram Mapala pertama yang melibatkan banyak anggota dan lokasinya cukup jauh. Sebelumnya memang ada ekspedisi ke Sungai Kapuas dan Mahakam pada akhir 1980-an, tapi itu ekspedisi gabungan, dan anggota Mapala yang ikut hanya Sinarmas Djati (1978 dan 1979) dan Norman Edwin (1980).

         Meski Sungai Tripa lebih ganas dan beragam jeram-jerammya, Sungai Alas pun tidak bisa dianggap remeh, karena akan segera berubah alirannya jika hujan turun di hulunya. Hal itulah yang terjadi, meski sebelumnya sudah ada pemantauan terhadap kondisi sungai, malam harinya ternyata hujan lebat turun di hulu. Ketika pengarungan, rute yang sudah direncanakan telah berubah, dan tindakan antisipasi terlambat dilakukan.

         “Dua perahu bertumpuk, kami semua terdampar di tengah batu. Lalu perlahan-lahan kami terseret dan beberapa kawan tersangkut di pohon tumbang di tengah sungai. Sonny, Naniek, Yendi dan tiga anggota pria bersama saya akhirnya bisa menepi,” tutur Norman (Kompas, 27 Januari 1986) yang mengemudikan perahu kecil. Penduduk sekitar menemukan jenasah Tom beberapa puluh meter dari tempat kejadian.

         Sementara perahu besar–yang dikemudikan oleh Budi, awaknya terseret cukup jauh, namun berhasil diselamatkan penduduk, tapi Belek–panggilan akrab Budi–sampai malam belum ditemukan. Petugas Taman Nasional Gunung Leuser dan penduduk menemukan jenazah Belek pada keesokan harinya, ia terseret cukup jauh, kepalanya luka terbentur batu, tapi tangannya masih menggenggam dayung kemudi. Inilah musibah pertama yang menimpa Mapala UI selama mencoba “mencumbu” jeram-jeram sungai.

         Arung jeram, memang olahraga petualangan yang menyerempet-nyerempet bahaya. Sungai beraliran tenang bukan media olahraga ini. Kalau sungainya berbuih sampai memutih, itu baru tempat yang cocok untuk mendayung dan memainkan dayung. Orang yang berbahasa Inggris menyebutnya white water sport atau wild water sport, lantaran air sungai memang berbuih, sampai memutih dan liar. Keliaran inilah justru yang dicari para petualang sungai, termasuk kelompok Mapala UI dalam suatu kegiatan petualangan bernama ekspedisi arung jeram.

         Boleh jadi, ekspedisi pertama arung jeram Mapala UI adalah yang dilakukan Sinarmas Djati (M-044-UI) bersama Frank Morgan dan kawan-kawannya yang alumnus Law Harvard School, Amerika Serikat tahun 1978 silam. “Saya menjadi PO (project officer) untuk ekspedisi Frank. Sayangnya, karena keterbatasan, hanya saya saja anak Mapala UI yang bisa ikut. Mungkin lebih tepatnya saya menjadi guide buat mereka,” cerita Sinar tentang ekspedisi itu (lihat “Sinar, Sang Pionir”).

         Sinar bersama Frank dan empat kawannya mencoba menyusuri hulu Sungai Mahakam dengan perahu boat dan berjalan kaki selama satu minggu. Sampai di pertemuan hulu Sungai Kasan dan Busang, barulah mereka melakukan pengarungan dengan perahu karet menuju Banjarmasin. Semua perjalanan itu total memakan waktu lima minggu.

         Setelah itu, beberapa kali rombongan yang sama juga mengajak Mapala UI berekspedisi di sungai-sungai pedalaman Kalimantan. Awalnya, Mapala UI masih diwakili Sinar. Tetapi, tahun 1980 ketika Frank Morgan mengajak ekspedisi kembali, Sinar meminta Norman Edwin menggantikannya. Norman yang sudah lama berguru arung jeram dengan Sinar, dianggap sudah piawai untuk ikut ekspedisi gabung-an (mereka menyebutnya Ekspedisi Camel) tersebut menelusuri sungai yang melintasi Kalimantan.

         “Jim Slade berdiri memandang jajaran riam yang berkabut itu. Suara gemuruh bukan main kerasnya, membuat tenggorokan mengencang, karena mesti berteriak-teriak kalau berbicara. Sungai Kayan tampak ganas sekali. Airnya memutih dan mengalir deras, membentuk gelombang-gelombang besar dan lekukan-lekukan dalam yang mengerikan. Kelokan-kelokan tajam membuat air deras menghantam dinding batu tepian sungai, membalikkan gelombang besar ke belakang. Empasan air yang menggulir di batu-batu besar, mengacaukan seluruh permukaan sungai. Jim Slade cuma mengangkat bahu. Riam ini tak mungkin dilewati ...,” petikan cerita Norman tentang ekspedisi tersebut (Di Bawah Panji Kehormatan, 1984).

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org