FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

Chronicles

21 November 2005 06:53 PM

SINAR SANG PELOPOR

Source: Jejak Kampus di Jalan Alam - 40 th Mapala UI

SIapa pelopor arung jeram di Mapala UI? Jawabannya, Sinarmas Djati (M-044-UI). Selain sebagai orang Indonesia pertama yang mencapai Carstensz bersama Henry Walandouw dan Rafiq Pontoh, Sinar yang aslinya orang Dayak punya alasan mengapa ia menggemari kegiatan di sungai berarus: “Sejak umur lima tahun saya sudah berenang di riam Sungai Mahakam.”

         Selesai mendaki Carstensz, Sinar mulai mengembangkan arung jeram di Mapala.  “Kira-kira tahun 1974-an, saya dan beberapa teman Mapala UI sudah beberapa kali latihan arung jeram di Sungai Citarum. Turun dari jembatan Rajamandala pakai perahu pinjaman dari Angkatan Laut,” papar Sinar.

         Waktu itu, masih cerita Sinar, di Citarum anak-anak Wanadri juga beberapa kali latihan. Bahkan pada 1975, Wanadri menggelar reli arung jeram di sana. “Karena dianggap punya pengalaman, saya diminta menjadi salah satu juri. Tapi saya tolak karena sistem yang diterapkan kurang tepat. Masak yang dites kemampuan berenang, bukan kemampuan mendayung. Itu ‘kan hal yang sangat berbeda. Memang secara keseluruhan pengetahuan kita semua minim soal arung jeram. Karenanya reli itu akhirnya makan korban. Kalau enggak salah ada tujuh orang tewas karena perahu terbalik, dan mereka terikat di perahu tersebut,” tutur Sinar yang pada Gladian Pencinta Alam 1975, Wanadri meminta Sinar menjadi pelatih pada sesi arung jeram.

         Kiprah arung jeram Mapala UI di pertengahan 1970-an menarik minat kerabat Mapala, Frank Morgan teman-temannya yang alumni Harvard Law School, AS, untuk membuat ekspedisi di Kalimantan. Frank Morgan sendiri adalah pengacara expat bekerja di Jakarta. Ia juga menggemari kegiatan alam bebas, dan sejak tahun 1973 sudah beberapa kali naik gunung salju di Papua bersama Henry, Rudy Badil, dan Herman Lantang.

         Tahun 1978, Frank bersama teman-temannya ingin mencoba tantangan baru: menyusuri jeram-jeram ganas di Sungai Mahakam. Teman-temannya yang di AS sudah biasa turun di Sungai Colorado, dan menurut mereka sungai itu masih yang terganas di dunia. Mapala UI, dalam hal ini Sinarmas, direkrut sebagai local partner.

         “Saya yang menjadi project officer untuk ekspedisi Frank. Sayangnya karena beberapa keterbatasan, hanya saya saja yang bisa ikut. Mungkin lebih tepatnya saya menjadi guide buat mereka,” cerita Sinar. Frank membawa empat bule, salah satunya wakil walikota New York. Mereka membawa tiga perahu karet merek Avon yang masih baru.

         Sebagai orang asli (native) Sinar bukan sangat mengenal kebiasaan penduduk setempat, tapi juga karakter Sungai Mahakam. Ketika sampai pada sebuah jeram yang besar, Sinar membuktikannya: “Perahu bule-bule itu kebalik di sebuah jeram besar. Saya sendiri di perahu ketiga yang ukurannya kecil, dan paling belakang. Saya tahu betul bagaimana mengendalikan perahu di jeram itu. Saya lolos, mereka tepuk tangan. Sejak saat itu juga mereka mengakui Mahakam tidak kalah ganas daripada Colorado.”

         Sebagai “hadiah” keberhasilan ekspedisi Kalimantan, tiga perahu itu dihibahkan ke Mapala UI. “Perahu Avon itu jadi kebanggaan tersendiri buat Mapala UI, karena saat itu di Indonesia belum ada yang punya,” kata Sinar.

         Frank dkk. kembali ke Kalimantan pada 1979 dan 1980. Sinar ikut lagi yang tahun 1979, tapi pada1980 peran local partner diserahkan kepada Norman Edwin. “Waktu itu saya sudah bekerja, dan bersiap untuk menikah,” kenang Sinar.

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org